Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan

Nvidia Boleh Jual Chip AI ke China Lagi: Dunia AI Masuki Babak Baru

Nvidia Boleh Jual Chip AI ke China Lagi: Dunia AI Masuki Babak Baru | B A H A S A tech.ai.LateR

Nvidia Boleh Jual Chip AI ke China Lagi: Dunia AI Memasuki Babak Baru

Selamat datang kembali di B A H A S A tech.ai.LateR. Setelah berbulan-bulan di bawah embargo ketat, sebuah pergeseran kebijakan dramatis terjadi. Pemerintah AS memberikan lampu hijau kepada Nvidia untuk kembali menjual chip AI ke China. Keputusan ini bukan sekadar transaksi bisnis; ini adalah manuver geopolitik yang menandakan babak baru dalam perang supremasi teknologi global.

Raksasa chip, Nvidia, mengonfirmasi telah mendapatkan jaminan dari Departemen Perdagangan AS untuk melanjutkan penjualan prosesor AI mereka, khususnya seri H20, ke pelanggan di China. Langkah ini membalikkan pembatasan ekspor yang sebelumnya diberlakukan atas dasar keamanan nasional, yang telah memblokir chip paling canggih seperti H100 dan A100 dari pasar China.

"Senjata" yang Disesuaikan: Apa Itu Chip H20?

Untuk memahami signifikansi keputusan ini, penting untuk mengenal chip H20. Nvidia secara spesifik merancang H20 sebagai versi "turunan" dari H100 yang sangat perkasa. Tujuannya adalah untuk mematuhi aturan pembatasan ekspor AS tanpa sepenuhnya kehilangan akses ke pasar China yang sangat besar.

  • Komputasi Berkurang: Kekuatan komputasi (diukur dalam TFLOPs) dari H20 secara signifikan lebih rendah dibandingkan H100. Beberapa analisis menyebut penurunannya mencapai 80%, membuatnya lebih lambat untuk melatih model AI dari nol.
  • Memori Tetap Besar: Uniknya, H20 mempertahankan kapasitas memori (96GB HBM3) dan bandwidth memori yang tinggi. Ini membuatnya tetap sangat efisien untuk tugas inference—menjalankan model AI yang sudah jadi. Bahkan, dalam beberapa skenario inference spesifik, H20 bisa lebih cepat dari H100.
  • Implikasi: China mungkin akan lebih lambat dalam melatih model AI fundamental generasi berikutnya, namun mereka akan tetap sangat kapabel dalam menerapkan dan menjalankan teknologi AI yang sudah ada secara massal.

Implikasi Strategis: Permainan Catur Tiga Dimensi

Pencabutan larangan ini mengirimkan gelombang ke seluruh industri teknologi dan panggung politik global. Ada beberapa implikasi utama yang perlu kita cermati:

1. Kemenangan Pragmatis bagi Nvidia dan Raksasa Teknologi China

Bagi Nvidia, ini adalah suntikan pendapatan miliaran dolar yang hilang selama embargo. Bagi raksasa teknologi China seperti Alibaba, Tencent, dan Baidu, ini adalah napas lega. Mereka kembali mendapatkan akses ke perangkat keras AI kelas dunia (meskipun bukan yang teratas) untuk mendukung layanan cloud dan inovasi produk mereka, memperlambat ketergantungan total pada alternatif domestik seperti chip dari Huawei.

2. Pergeseran Kebijakan AS: Ekonomi di Atas Konfrontasi?

Keputusan ini menandakan pergeseran taktik dari konfrontasi total menjadi kompetisi yang lebih terkendali. Para pelobi di Washington berpendapat bahwa memutus total akses China hanya akan mempercepat kemandirian teknologi mereka dan merugikan perusahaan AS. Dengan mengizinkan penjualan chip yang "cukup baik", AS mempertahankan pengaruh dan pendapatan, sambil tetap membatasi akses ke teknologi AI paling mutakhir yang berisiko bagi keamanan nasional.

3. Percepatan Inovasi Domestik China Tetap Berlanjut

Meskipun pintu Nvidia terbuka kembali, China tidak akan menghentikan misinya untuk mencapai swasembada chip. Embargo sebelumnya telah menjadi "wake-up call" yang sangat keras. Investasi besar-besaran ke dalam perusahaan seperti Huawei (dengan chip Ascend-nya) dan SMIC akan terus berlanjut untuk memastikan mereka tidak lagi rentan terhadap kebijakan luar negeri AS.

Kesimpulan: Keseimbangan Baru yang Rapuh

Dunia AI telah memasuki fase baru yang lebih kompleks. Larangan total terbukti sulit dipertahankan dan berpotensi merugikan AS dalam jangka panjang. Kini, kita melihat sebuah keseimbangan baru yang rapuh: AS mengizinkan ekspor teknologi yang kuat namun terkendali untuk mempertahankan dominasi pasarnya, sementara China mendapatkan alat yang mereka butuhkan untuk terus berkembang, sambil mati-matian membangun kemandirian teknologinya sendiri.

Satu hal yang pasti: perlombaan supremasi AI masih jauh dari selesai. Kebijakan ini hanyalah langkah terbaru dalam permainan catur yang akan mendefinisikan tatanan teknologi global untuk dekade mendatang.


Sumber Kredibel:

Kejutan di WWDC! Apple Rilis iOS 26 dengan Desain "Kaca Cair" yang Spektakuler dan Kecerdasan Buatan Tingkat Lanjut

Kejutan di WWDC! Apple Rilis iOS 26 dengan Desain "Kaca Cair" yang Spektakuler dan Kecerdasan Buatan Tingkat Lanjut
Jakarta, 5 Juli 2025
Ilustrasi iOS 26 Liquid Glass
Dunia teknologi kembali dikejutkan oleh inovasi dari Apple dalam ajang tahunan Worldwide Developers Conference (WWDC). Alih-alih meneruskan tradisi dengan iOS 19, raksasa teknologi ini justru meluncurkan iOS 26, sebuah lompatan besar yang membawa perubahan visual radikal dan integrasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih mendalam.

Salah satu fitur yang paling mencuri perhatian adalah desain antarmuka pengguna yang revolusioner bernama "Liquid Glass" atau "Kaca Cair". Terinspirasi dari keindahan dan fluiditas kaca, tampilan baru ini menghadirkan efek visual yang memukau di seluruh sistem operasi. Ikon aplikasi, widget, dan elemen kontrol lainnya seolah-olah terbuat dari kaca yang memantulkan cahaya secara dinamis, menciptakan pengalaman visual yang belum pernah ada sebelumnya.
Ilustrasi desain kaca cair iOS 26
Contoh ilustrasi konsep "Liquid Glass" di iOS 26 (Sumber: Unsplash)

Layar kunci pun tak luput dari sentuhan magis ini, dengan tampilan waktu yang unik dan wallpaper 3D interaktif yang bergerak mengikuti sentuhan dan pergerakan perangkat.

Tak hanya soal estetika, Apple juga memperkenalkan serangkaian fitur AI canggih melalui "Apple Intelligence". Salah satu fitur menonjol adalah Live Translation yang kini semakin pintar dan sudah terintegrasi di aplikasi Pesan, FaceTime, dan Telepon. Hebatnya, proses terjemahan dilakukan langsung di perangkat, menjamin privasi percakapan pengguna.

Video ilustrasi: Konsep iOS 26 dan fitur Liquid Glass (YouTube Demo)

Selain itu, fitur Visual Intelligence hadir di berbagai aplikasi, memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi objek, teks, atau bahkan tempat hanya dengan mengarahkan kamera atau mengambil tangkapan layar. Integrasi dengan teknologi ChatGPT juga semakin memperluas kemampuan AI di berbagai aspek penggunaan.

Keputusan Apple untuk langsung meluncurkan iOS 26 setelah iOS 18 tentu menimbulkan banyak spekulasi. Perusahaan menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk menyelaraskan penamaan sistem operasi dengan tahun rilis serta menciptakan keseragaman di seluruh ekosistem produk Apple.

Sayangnya, pembaruan iOS 26 ini tidak akan tersedia untuk semua pengguna iPhone. Apple mengumumkan bahwa hanya perangkat iPhone 11 dan model yang lebih baru (hingga iPhone 16) yang akan kompatibel dengan sistem operasi terbaru ini.

Meskipun saat ini masih dalam tahap pengujian Beta untuk para pengembang, antusiasme terhadap iOS 26 sangat tinggi. Desain "Liquid Glass" yang inovatif dan kemampuan AI yang canggih diprediksi akan membawa pengalaman menggunakan iPhone ke level yang benar-benar baru. Kita tunggu saja peluncuran resminya untuk merasakan sendiri keajaiban iOS 26 ini.
Ilustrasi gambar: Unsplash | Video: YouTube (konsep, demo, atau bocoran iOS 26)
Affiliate Shopee: ![image1](image1)

# Waspada! Marak ChatGPT Palsu, Netizen Indonesia Jadi Sasaran Serangan Siber Berkedok AI

Waspada! Marak ChatGPT Palsu, Netizen Indonesia Jadi Sasaran Serangan Siber Berkedok AI
INDONESIA, Juli 2025
Ilustrasi aplikasi palsu ChatGPT
Di tengah popularitas kecerdasan buatan seperti ChatGPT, muncul fenomena baru yang bikin heboh netizen tanah air. Banyak pengguna internet di Indonesia yang tanpa sadar terjebak aplikasi ChatGPT palsu yang beredar luas di dunia maya. Bukan hanya sekadar aplikasi tiruan, tapi juga menjadi pintu masuk serangan siber yang mengintai data pribadi hingga dompet digital!

Menurut pakar keamanan siber dari Kaspersky, Vasily Kolesnikov, pelaku kejahatan digital memang cerdik memilih momen. “Mereka selalu mengincar aplikasi yang sedang viral. Begitu ada tren baru, versi palsunya langsung bermunculan di internet,” katanya. Tak heran, aplikasi chatbot AI yang sedang naik daun seperti ChatGPT jadi target empuk.

Modusnya beragam: mulai dari aplikasi palsu di toko aplikasi, situs web tiruan, hingga pesan undangan untuk mencoba ‘fitur premium’ yang ternyata berisi malware. Banyak korban mengaku tergiur dengan janji akses gratis ke fitur canggih, padahal ujung-ujungnya data penting diambil alih penjahat siber.

Fenomena ini membunyikan alarm bagi netizen Indonesia agar lebih waspada sebelum mengunduh atau mencoba layanan AI. Pastikan selalu mengakses aplikasi resmi, cek ulasan, dan jangan mudah tergoda tawaran yang terlalu muluk.

Sumber gambar ilustrasi: Unsplash
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang berita ini, Anda bisa membaca sumber aslinya di JawaPos.com.

Sumber: JawaPos.com

Fitur Canggih AI di Facebook: Apa Dampaknya bagi Anda?

KEDIRI – Di zaman serba digital ini, teknologi terus mengubah cara kita berkomunikasi. Meta, perusahaan yang menaungi Facebook, menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai motor penggerak utama di platform media sosialnya. AI bekerja tanpa henti di balik layar, mulai dari mengatur postingan di beranda hingga mendeteksi konten berbahaya.

Lalu, apa saja fitur AI yang sedang dikembangkan Meta, dan bagaimana hal itu memengaruhi lebih dari dua miliar penggunanya di seluruh dunia?

Bagaimana AI Bekerja di Beranda Facebook Anda?

Meta memiliki tim ahli di seluruh dunia yang fokus mengembangkan teknologi AI canggih. Teknologi ini mencakup kemampuan AI untuk:

  • Belajar sendiri (machine learning),

  • "Melihat" dan mengenali objek di foto (computer vision),

  • Memahami bahasa manusia (natural language processing).

Hasilnya bisa Anda rasakan langsung setiap hari. Salah satu contoh utamanya adalah sistem cerdas yang mengatur isi beranda (umpan berita) Anda. AI ini mempelajari kebiasaan Anda: apa yang Anda klik, sukai, dan berapa lama Anda melihat sebuah postingan. Tujuannya agar konten yang muncul di beranda Anda terasa pas dan menarik.

Selain itu, AI juga bertugas sebagai "penjaga keamanan" digital. Dengan kemampuannya mendeteksi ujaran kebencian atau gambar kekerasan dalam hitungan detik, AI telah menghapus jutaan postingan berbahaya bahkan sebelum ada yang sempat melaporkannya. Namun, teknologi ini tidak selalu sempurna. Kadang, ia bisa salah paham dan tak sengaja menghapus konten yang sebenarnya tidak melanggar aturan.

Fitur AI yang Bisa Anda Lihat dan Rasakan

Meta juga menghadirkan fitur AI yang bisa langsung Anda gunakan:

  1. Penandaan Foto Otomatis: Saat Anda mengunggah foto bersama teman, Facebook bisa langsung menyarankan siapa saja yang ada di dalam foto itu. Ini berkat teknologi AI canggih yang mampu mengenali dan memetakan wajah dengan akurasi tinggi.

  2. Terjemahan Otomatis: Pernah melihat postingan dalam bahasa asing? Fitur terjemahan instan memecah kebuntuan bahasa, memungkinkan Anda terhubung dengan orang dari seluruh dunia.

  3. Asisten Virtual (Chatbot): Fitur ini banyak membantu para pemilik bisnis. Chatbot cerdas dapat menjawab pertanyaan pelanggan secara otomatis dan cepat, sehingga menghemat waktu dan tenaga. Ini sangat berguna bagi toko online yang butuh melayani pelanggan dengan sigap.

Dua Sisi Mata Uang: Manfaat vs. Kekhawatiran

Tidak bisa dipungkiri, AI membawa banyak manfaat. Pengguna mendapatkan pengalaman yang lebih personal, sementara pebisnis bisa beriklan dengan lebih tepat sasaran. Menurut data internal Meta, iklan yang ditampilkan dengan bantuan AI terbukti 30% lebih berhasil mengubah orang yang melihatnya menjadi pembeli.

Namun, ada sisi lain yang perlu diwaspadai:

  • Privasi Data: Banyak yang khawatir tentang seberapa banyak data pribadi kita yang dikumpulkan untuk "melatih" AI ini. Pertanyaannya, "AI memang pintar, tapi dari mana datanya berasal?"

  • AI yang 'Pilih Kasih': Ada risiko "bias algoritma". Jika data yang "dimakan" oleh AI tidak seimbang, AI bisa jadi tidak adil. Misalnya, lebih sering menampilkan satu jenis konten tertentu dan tanpa sadar memperkuat pandangan atau stereotip yang sudah ada.

Masa Depan Facebook: Lebih Cerdas Lagi?

Meta tidak akan berhenti di sini. Perusahaan ini berencana menggunakan AI Generatif, yaitu jenis AI yang bisa menciptakan konten baru seperti teks atau gambar. Bayangkan Anda bisa membuat status, cerita, atau bahkan desain iklan hanya dengan memberi perintah sederhana pada AI.

Tentu saja, tantangan besar menanti. Aturan privasi yang semakin ketat di berbagai negara menuntut Meta untuk lebih terbuka tentang cara mereka menggunakan AI. Di sisi lain, kita sebagai pengguna berharap semua kemudahan ini tidak mengorbankan privasi dan keaslian interaksi antarmanusia.

Kesimpulan

Fitur AI di Facebook ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia menawarkan kemudahan, personalisasi, dan efisiensi yang luar biasa. Di sisi lain, ada tanggung jawab besar yang harus dipikul Meta terkait etika dan privasi data.

Bagi kita sebagai pengguna, pertanyaannya tetap sama: sejauh mana kita bersedia membiarkan kecerdasan buatan mengatur pengalaman digital kita.

KEDIRI – Di zaman serba digital ini, teknologi terus mengubah cara kita berkomunikasi. Meta, perusahaan yang menaungi Facebook, menjadikan ...